tentang kapitalisme

Tentang Kapitalisme

tentang kapitalisme

Ilustrasi Kapitalisme, foto: icanvas.com

Beberapa waktu lalu, entah hari dan bulan apa tepatnya aku lupa, teman-teman di grup WhatsApp  Klub Buku & Blogger Backpacker Jakarta membicarakan Kapitalisme.  Perbincangan tersebut cukup menarik. Ada yang bertanya “jadi kita mesti anti terhadapa produk kapitalis?” “karena di Indonesia tidak ada borjuis nasional”, kurang lebih begitulah, dan bermacam tanggapan dari teman-teman mengenai kapitalisme.

Percakapan mengenai kapitalisme itu aku ikuti sekilas saja disela kesibukan deadline pekerjaan yang menumpuk. Awalnya ingin sekali ikut nimbrung dalam diskusi itu, namun karena kesibukan dan sedang fokus  pada pekerjaan jadi aku urungkan niat untuk terlibat dalam diskusi yang asik itu.

Maka, pada kesempatan jatah menulis atau arisan blog ini aku terpikir untuk ikut menanggapi diskusi teman-teman mengenai kapitalisme pada waktu itu.

Sebelum ikut menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang sekelebat masih ku ingat dalam percakapan waktu itu, menurutku ada baiknya kita mulai dengan memahami  apa kapitalisme itu dimulai dari asal usul kapitalisme dan bagaimana kapitalisme itu.

Sebagai suatu hubungan sosial dalam sejarah perkembangan masyarakat dunia, kapitalisme tidak hadir begitu saja dalam sejarah. Kapitalisme  ditandai atau dicirikan dengan adanya komodifikasi semua barang dan jasa, termasuk tanah dan tenaga kerja. Komodifikasi adalah proses menjadikan sesuatu yang sebetulnya bukan komoditi menjadi komoditi. (Dede Mulyanto; 2012)

Kapitalisme ditandai oleh karakter hubungan sosial yang memaksa semua pelaku mengalami ketergantungan pada pasar. Semua produksi harus ditujukan untuk pasar dan semua yang terlibat di dalamnya tunduk dalam prinsip persaingan agar bisa bertahan. Motif mengumpulkan laba lebih dominan daripada motif melakukan proses produksi itu sendiri. (IndoProgress: 2016)

Lebih lanjut dalam bukunya, Dede Mulyanto menjelaskan di dalam masa prasejarah kapitalisme, golongan sosial yang hidup dari menjual tenaga kerjanya pertama-tama diciptakan dari golongan produsen langsung, yaitu mereka yang memenuhi kebutuhan hidup dari hasil mencurahkan tenaga kerja mereka sendiri seperti kaum tani, pengrajin tradisional, dan pengusaha kecil-kecilan pra kapitalis.

Dari kutipan dalam buku Dede Mulyanto dapat kita pahami bahwa terjadi gerak sejarah atau adanya proses pengkondisian yang terjadi sejak masyarakat pra kapitalis menuju masyarakat kapitalis. Dalam proses tersebut terjadi rasionalisasi perolehan laba berkelanjutan melalui eksploitasi tenaga kerja. Poin penting dalam kerangka kapitalisme adalah corak produksi.

Selain penjelasan di atas, untuk memahami kapitalisme kita bisa melacaknya lewat  proses perubahan dari masa feodalisme ke kapitalisme. Untuk lebih lengkapnya kita bisa membaca sejarah sekitar abad ke-16 di mana pada masa-masa tersebut sistem feodalisme runtuh dan digantikan oleh kapitalisme yang ditandai berkembang pesatnya industrialisasi.

Pada masa tersebut terjadi pemisahan antara sarana produksi dengan produsennya secara brutal…

Bersambung…

Iklan

Apa itu Press Agentry?

sumber: ist

sumber: ist

Secara sederhana Press Agentry bisa diartikan sebagai agen pers. Tugasnya adalah memasukkan nama klien ke media. Mengolah agar berita tercipta, atau mencipta peristiwa yang bernilai berita untuk menarik perhatian media massa dan publik.

Kalau kita melihat dan mendengar seorang artis yang telah lama tak muncul di media, tapi tiba-tiba namanya kembali melejit, atau tiba-tiba seorang artis yang belum pernah terkenal sebelumnya,  serta kita tiba-tiba mempersepsikan film Spiderman atau Batman sebagai film wajib tonton, bisa dipastikan itu hasil kerja dari agen pers.

Seperti yang disebut diawal tadi, agen pers mengolah atau memunculkan daya tarik si artis dan film yang akan tayang. Dan kemudian kita akan mempersepsikan bahwa si artis atau film itu menarik untuk diikuti dan ditonton.

Akan tetapi, kerja para agen pers pun tidak selalu menghasilkan berita yang positif. Misalnya, ketika kita menemukan berita sebuah perusahaan besar yang memecat kepala cabang perusahaan karena diduga korupsi atau diduga tersandung kasus asusila. Peristiwa semcam itu pun akan menjadi perhatian media massa.

Dalam dunia politik pun agen pers sangat dibutuhkan. Dalam kampanye politik atau konvensi partai politik misalnya, agen pers dibutuhkan untuk publikasi agar mendapatkan pengakuan dan menarik pemilih melalui media.

Sebagai contoh, coba saja cari pemberitaan pada masa kampanye 2014 lalu. Jika menemukan satu pemberitaan dari salah satu kandidat hampir sama di setiap media, bisa dipastikan itu pekerjaan agen pers.

Agen pers memang memainkan peran yang cukup signifikan, bahkan dalam kancah politik. Namun, terkadang dalam pemeritaan yang dibuat oleh agen pers pun masih perlu kita pertanyakan kebenaran berita yang dibuat dan disebarkan itu. karena tak jarang banyak terdapat manipulasi.

tulisan iseng-iseng. 😀

Lobbying

foto: istimewa

foto: istimewa

Ketika menonton film mafia atau film action dari Hollywood, kadang kita disuguhkan adegan beberapa orang dalam sebuah ruangan atau kafe sedang berbicara serius namun santai, serta diselingi kepulan asap rokok dan membagikan uang. Ya, itulah sebuah adegan yang kadang dipersepsikan sebagai orang sedang melakukan lobbying.

Lobbying adalah jurus pamungkas (khusus) dalam Public Relations (humas). Betapa tidak, fungsi lobbying untuk menjalin dan memelihara hubungan dengan stakeholder, tujuannya tak lain untuk memengaruhi. Maka tidak heran banyak persepsi negative terkait agenda yang dinamakan lobbying. Sering dianggap ada ‘hanky panky’.

Meski kadang terdapat penyalahgunaan dan muncul kemarahan publik, lobbying tetap menjadi cara yang legal dan dapat diterima oleh kelompok manapun (terutama pada asosiasi serikat pekerja dan korporasi), untuk memengaruhi keputusan pembuat kebijakan.

Tapi lobbying bukan hanya ada pada tatanan elit saja. Menggerakkan massa untuk memengaruhi suatu kasus atau membuat opini, dapat juga disebut lobbying tingkat akar rumput.

Lobbying tak akan sukses tanpa menyiapkan terlebih dahulu informasi, isu, dan mengkomunikasikan informasi yang persuasif kepada stakeholder, hingga ke akar rumput. Dengan begitu, stereotip pelobi yang membagi-bagikan uang sambil menghisap rokok dalam sebuah ruangan atau kafe sudah tak berlaku lagi.

Pelobi dalam system demokratis sekarang ini lebih banyak mengumpulkan informasi akurat ketimbang duduk di kafe sambil merokok dan membagikan uang, karena informasi yang kuat  itu akan sangat menentukan keberhasilan lobbying.

tulisan iseng-iseng. 😀